Mengisi Blog itu Ternyata (tidak) Mudah
Thursday, January 22, 2009
Makanya mungkin alasan itu yang buat saya ogah untuk berlama-lama di depan komputer kalau anak saya sedang alert. Atau mungkin memang seperti kata-kata saya tadi hanya kambing hitam saya saja untuk mencari alasan mangkir tidak juga mengisi blog. Padahal banyak sekali ide-ide tulisan yang berseliweran di dalam otak saya yang rasanya sudah overload sampai-sampai ide-ide itu lenyap begitu saja.

Atau mungkin saya belum siap memiliki blog, karena memiliki blog sama seperti mengurus anak -kalau boleh didramatisir- yang perlu dirawat, diberi makan (tulisan), diperhatikan dan diurus. Bahkan dalam satu bulan (malah pernah hampir tahunan) saya tidak menengoknya dengan mengisi tulisan sekalipun. Salahnya saya terlalu mementingkan untuk mencari-cari template yang bagus sampai tidak mengingat bahwa yang lebih penting dari sebuah blog adalah isi tulisan pada blog yang memberi nyawa suatu blog.
Anehnya jika menulis diary, saya dapat dengan suksesnya menulis lancar seperti tanpa berpikir.. mungkin karena tulisan-tulisan dalam diary lebih bersifat pribadi dan merupakan ungkapan perasaan emosional saya sehingga dapat dengan mudahnya saya tuliskan. Kalau menulis di blog saya merasa tulisan yang saya keluarkan mesti menggunakan kata-kata yang baik dan benar. Walaupun ada juga orang yang berpikir kalau tulisan blog terserah dengan apa yang ingin disampaikan si pemilik blog dong, it's OK. Tapi saya merasa tulisan-tulisan yang saya keluarkan harus benar-benar sudah disunting dan menurut saya sudah baik. Walaupun hasil tulisannya belum tentu baik bagi orang lain, setidaknya baik bagi saya. Perfeksionis, mungkin itu juga yang membuat saya agak kesulitan memulai menuangkan ide tulisan karena terlalu mementingkan aturan-aturan bahasa. Padahal menurut para pakar tulis menulis kiat untuk mulai menulis adalah langsung mulai menulis!
Untuk itu, resolusi saya mulai bulan ini adalah mulai merawat dan mengurus blog ini agar memiliki nyawa dengan tulisan. Doakan ya..




Baca buku 99 untuk Tuhanku-nya cak Nun waktu pertama kali saya langsung jatuh cinta. Entah cinta pada isinya atau pada Rabb yang menjadi objek puisi. Yang pasti saya berharap ingin bisa mencintai Rabb Tersayang. Puisinya mengingatkan untuk selalu mengingat-Nya. Ini beberapa penggalan puisinya Emha Ainun Nadjib:
